PENGEMBANGAN NON TES
A. PENDAHULUAN
Dalam melakukan
penilaian hasil belajar, Pendidik cenderung lebih mengutamakan penilaian yang
didasarkan dari hasil tes, baik berupa
hasil tes objektif ataupun subjektif, sedangkan hal yang berkenaan dengan
domain afektif seperti sikap, minat, bakat, dan motivasi seringkali diabaikan.
Untuk mengukur
hasil belajar tidak hanya semata berdasarkan pada hasil tes tetapi juga harus
dipertimbangankan aspek non tes. Instrumen hasil belajar non-tes untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan
dengan soft skill, terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat
dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik dari apa yang diketahui atau
dipahaminya. Dengan kata lain, instrumen seperti itu terutama
berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dari pada pengetahuan dan
proses mental lainnya yang tidak dapat diamati dengan panca indra. Selain itu,
instrumen seperti ini memang merupakan satu kesatuan dengan instrumen lainnya,
karena tes pada umumnya mengukur apa yang diketahui, dipahami atau yang dapat
dikuasai oleh peserta didik dalam tingkatan proses mental yang lebih tinggi.
Sampai saat ini penilaian pendidikan matematika
lebih banyak mengandalkan tes dibandingkan dengan teknik non tes. Hal ini dikarenakan penilaian mata pelajaran
matematika lebih mengutamakan teknik tes. Tentunya sistem penilaian seperti ini
tidaklah cukup. Objek penilaian pembelajaran matematika terlalu kompleks jika
hanya mengandalkan tes saja.
Berbagai
objek penilaian pembelajaran matematika memerlukan instrument non tes. Oleh
karena itu, penting bagi setiap guru matematika memahami dan mampu
mengembangkan instrumen non tes agar dapat merancang dan melaksanakan penilaian
dengan sebaik-baiknya.